Tnews.id – Pemerintah Iran dilaporkan tengah mengkaji kemungkinan memberikan izin terbatas bagi kapal tanker minyak untuk melintasi Selat Hormuz. Namun, izin tersebut disebut memiliki syarat khusus, yakni transaksi minyak harus menggunakan mata uang yuan milik China.
Informasi ini disampaikan oleh seorang pejabat senior Iran kepada media Amerika Serikat, CNN, di tengah meningkatnya ketegangan geopolitik di kawasan Timur Tengah.
Iran Pertimbangkan Aturan Baru untuk Kapal Tanker
Menurut laporan tersebut, kebijakan ini masih dalam tahap pembahasan oleh pemerintah Iran. Langkah tersebut merupakan bagian dari strategi Teheran untuk mengatur ulang lalu lintas kapal tanker minyak yang melewati jalur pelayaran penting tersebut.
Transaksi Minyak Diminta Gunakan Yuan
Salah satu syarat yang sedang dipertimbangkan adalah penggunaan mata uang yuan dalam transaksi minyak yang dilakukan oleh kapal tanker yang ingin melintas di Selat Hormuz.
Kebijakan ini diperkirakan akan berdampak besar terhadap perdagangan energi global karena Selat Hormuz merupakan jalur vital bagi distribusi minyak dunia.
Selat Hormuz Jalur Energi Penting Dunia
Selat Hormuz dikenal sebagai salah satu jalur pelayaran paling strategis bagi sektor energi internasional.
Puluhan Juta Barel Minyak Melintas Setiap Hari
Diperkirakan sekitar 20 juta barel minyak dikirim melalui jalur ini setiap hari. Selain itu, sekitar 20 persen perdagangan gas alam cair dunia juga melewati kawasan tersebut.
Karena perannya yang sangat penting, setiap gangguan terhadap aktivitas pelayaran di Selat Hormuz dapat memicu gejolak besar pada pasar energi global.
Harga Minyak Global Ikut Terdorong Naik
Ketidakpastian yang terjadi di sekitar Selat Hormuz telah mendorong kenaikan harga minyak dunia ke level tertinggi sejak pertengahan 2022.
Lonjakan tersebut dipicu oleh kekhawatiran pasar terhadap kemungkinan terganggunya distribusi minyak dari kawasan Timur Tengah.
PBB Ingatkan Dampak Besar Jika Jalur Dibatasi
Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) sebelumnya juga memperingatkan bahwa pembatasan pelayaran di Selat Hormuz dapat membawa dampak luas, termasuk pada kegiatan kemanusiaan yang bergantung pada stabilitas jalur logistik laut dan energi.
Ketegangan Meningkat Setelah Serangan Militer
Situasi di kawasan semakin memanas setelah Iran secara efektif menutup akses Selat Hormuz sejak awal Maret.
Konflik Iran dengan AS dan Israel
Langkah tersebut diambil menyusul serangan militer yang dilancarkan oleh Amerika Serikat bersama Israel terhadap wilayah Iran pada 28 Februari lalu.
Konflik yang berkembang sejak saat itu dilaporkan telah menelan sekitar 1.300 korban jiwa.
Salah satu korban yang dilaporkan meninggal dalam konflik tersebut adalah pemimpin tertinggi Iran saat itu, Ali Khamenei. Sejak peristiwa tersebut, ketegangan militer di kawasan Timur Tengah terus meningkat.
