Tnews.id – Perkara dugaan kekerasan seksual terhadap seorang siswi Sekolah Luar Biasa (SLB) di kawasan Kalideres, Jakarta Barat, kembali menjadi sorotan publik. Hingga memasuki dua tahun sejak laporan dibuat, proses hukum kasus tersebut dinilai belum menunjukkan kepastian yang jelas bagi keluarga korban.
Pihak kepolisian kini mempertimbangkan langkah penjemputan paksa terhadap terduga pelaku setelah dua kali tidak memenuhi panggilan pemeriksaan dari penyidik.
Kasat Res PPA PPO Polres Metro Jakarta Barat, Nunu Suparmi, mengatakan bahwa proses pemanggilan masih terus berjalan. Namun, hingga saat ini terduga pelaku belum memberikan respons ataupun alasan ketidakhadirannya.
Polisi Siapkan Langkah Tegas Sesuai Prosedur
Menurut pihak kepolisian, dua surat panggilan resmi sudah dilayangkan kepada terduga pelaku. Karena dianggap tidak kooperatif selama proses penyidikan, aparat membuka kemungkinan mengambil tindakan tegas sesuai aturan hukum yang berlaku.
Langkah tersebut dilakukan untuk mempercepat penanganan kasus yang sudah cukup lama berjalan dan menjadi perhatian masyarakat.
Keluarga Korban Minta Kepastian Hukum
Keluarga korban berharap perkara ini segera menemukan titik terang agar korban mendapatkan keadilan. Paman korban, Suwondo, menyebut hasil pemeriksaan DNA telah menunjukkan kecocokan yang mengarah kepada terduga pelaku.
Pihak keluarga juga mengaku masih merasakan dampak psikologis dari peristiwa yang menimpa korban, terlebih proses hukum yang berlangsung cukup panjang membuat trauma korban belum sepenuhnya pulih.
Kasus Terungkap Setelah Korban Diketahui Hamil
Kasus ini pertama kali mencuat pada Mei 2024 saat keluarga mengetahui korban yang masih berusia 15 tahun ternyata tengah mengandung lima bulan. Awalnya, keluarga tidak menyadari perubahan kondisi korban karena anak tersebut memiliki riwayat gangguan menstruasi.
Korban diketahui merupakan penyandang disabilitas dengan keterbatasan pendengaran, kemampuan berbicara, serta intelektual.
Kecurigaan keluarga muncul setelah kondisi fisik korban terus melemah dan mengalami muntah-muntah menjelang malam takbiran. Saat dibawa menjalani pemeriksaan medis dan USG, keluarga baru mengetahui bahwa korban sedang hamil.
Korban Kini Putus Sekolah Akibat Trauma
Peristiwa tersebut membuat keluarga terpukul. Setelah kasus dilaporkan kepada pihak kepolisian, korban diketahui telah melahirkan. Namun dampak trauma yang dialami menyebabkan korban tidak lagi melanjutkan pendidikan di sekolahnya.
Terduga pelaku dalam kasus ini disebut merupakan teman sekelas korban yang juga memiliki keterbatasan sebagai penyandang disabilitas.
Pihak keluarga berharap proses hukum dapat segera diselesaikan agar korban memperoleh perlindungan dan keadilan yang layak.
