Tnews.id – Wali Kota Yawata, Shoko Kawata, mencatat sejarah sebagai kepala daerah petahana pertama di Jepang yang memutuskan mengambil cuti melahirkan selama masih menjabat. Langkah tersebut memicu beragam respons dari masyarakat, termasuk perdebatan di media sosial mengenai keseimbangan antara pekerjaan dan kehidupan keluarga.
Dalam penyampaiannya kepada dewan kota Yawata, wilayah barat Jepang, Kawata menegaskan bahwa roda pemerintahan akan tetap berjalan dengan baik karena tugasnya akan dijalankan sementara oleh wakil wali kota selama dirinya menjalani masa cuti.
Perempuan berusia 35 tahun itu mengaku tidak menyangka keputusannya akan menjadi perhatian publik dan memunculkan diskusi yang begitu luas.
Keputusan Cuti Melahirkan Picu Perdebatan di Jepang
Kawata Soroti Budaya Kerja yang Mengutamakan Karier
Menurut Kawata, masih banyak pandangan yang menganggap seseorang harus mengutamakan pekerjaan dengan mengesampingkan kehidupan pribadi demi menunjukkan dedikasi terhadap profesinya.
Ia menilai pola pikir tersebut masih cukup kuat dalam lingkungan kerja di Jepang, sehingga keputusannya untuk mengambil cuti melahirkan dianggap sebagai sesuatu yang tidak biasa.
Meski demikian, Kawata melihat mulai muncul perubahan sikap masyarakat. Ia merasakan semakin banyak orang yang mulai memahami bahwa perempuan membutuhkan waktu untuk menjalani proses persalinan dan pemulihan tanpa harus dibebani tuntutan pekerjaan.
Perempuan Menghadapi Tantangan Fisik yang Berbeda
Kawata Nilai Cuti Melahirkan Merupakan Kebutuhan, Bukan Pilihan
Shoko Kawata menegaskan bahwa kondisi biologis perempuan membuat mereka tidak mungkin menjalankan aktivitas kerja seperti biasa menjelang maupun setelah melahirkan.
Ia membandingkan situasi tersebut dengan laki-laki yang secara fisik tidak mengalami proses persalinan sehingga masih memungkinkan tetap bekerja tanpa mengalami perubahan kondisi tubuh.
Karena belum pernah ada kepala daerah petahana yang mengambil cuti melahirkan, Kawata menyusun sendiri mekanisme pelaksanaan cutinya dengan mengacu pada ketentuan nasional yang berlaku di Jepang.
Ia berencana kembali menjalankan tugas sebagai wali kota pada Desember 2026 setelah masa cutinya berakhir.
Berharap Jadi Inspirasi bagi Perempuan di Dunia Politik
Dorong Kepemimpinan yang Lebih Ramah terhadap Keluarga
Kehamilan pertamanya membuat Kawata mengaku belum mengetahui seluruh tantangan yang akan dihadapi selama menjadi ibu. Meski begitu, ia berharap langkah yang diambilnya dapat memberikan inspirasi bagi lebih banyak perempuan untuk terlibat dalam dunia politik dan kepemimpinan.
Menurutnya, semakin banyak perempuan yang menduduki posisi pengambil keputusan, maka semakin besar pula peluang lahirnya kebijakan yang mampu mendukung keseimbangan antara pekerjaan dan kehidupan keluarga.
Kawata berharap pengalamannya dapat menjadi contoh bahwa tanggung jawab sebagai pemimpin daerah tetap dapat berjalan seiring dengan peran sebagai seorang ibu, selama didukung oleh sistem pemerintahan yang baik dan kolaborasi antarpejabat.










