Tnews.id – Program Makan Bergizi Gratis (MBG) yang dijalankan pemerintah di sejumlah sekolah di Jakarta mendapat sorotan setelah penelitian menunjukkan banyak siswa tidak menghabiskan makanan yang diberikan. Anggota DPR meminta adanya evaluasi terhadap variasi menu hingga sistem distribusi makanan agar program tersebut lebih efektif dan tepat sasaran.
DPR Dorong Evaluasi Menu Makan Bergizi Gratis
Anggota Komisi IX DPR RI, Irma Suryani Chaniago, menilai penyedia layanan makanan dalam program MBG perlu memperhatikan selera anak-anak sekolah dasar. Menurutnya, meskipun makanan yang disediakan telah memenuhi standar gizi, faktor rasa dan variasi menu tetap penting agar siswa mau menghabiskan makanan mereka.
Irma menjelaskan bahwa anak usia sekolah dasar biasanya memilih makanan sesuai selera. Karena itu, penyedia layanan harus mampu menyesuaikan menu agar tetap bergizi sekaligus disukai oleh anak-anak.
Variasi Menu Dinilai Penting
Ia menekankan bahwa Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) perlu melakukan evaluasi terhadap menu yang disajikan. Hasil penelitian yang dilakukan akademisi dinilai dapat menjadi acuan untuk memperbaiki kualitas layanan makanan dalam program tersebut.
Menurut Irma, ketidaktepatan dalam pengolahan maupun distribusi menu dapat menjadi salah satu faktor makanan tidak dimakan hingga habis oleh siswa.
DPR Minta Program MBG Tepat Sasaran
Wakil Ketua Komisi IX DPR RI, Yahya Zaini, juga menyoroti pentingnya kejelasan sasaran penerima manfaat program MBG. Ia menilai pemerintah perlu menentukan prioritas sekolah yang benar-benar membutuhkan program tersebut.
Tiga Hal yang Harus Diperhatikan
Yahya mengingatkan bahwa ada tiga aspek penting yang harus diperhatikan dalam penyediaan makanan program MBG:
-
Kandungan gizi harus sesuai dengan standar yang ditetapkan.
-
Keamanan makanan harus terjamin agar tidak menimbulkan masalah kesehatan.
-
Variasi menu perlu diperbanyak agar siswa tidak merasa bosan.
Menurutnya, variasi makanan yang kurang dapat membuat siswa kehilangan minat sehingga makanan yang disediakan tidak dihabiskan.
Penelitian FISIP UI Temukan Potensi Pemborosan Makanan
Temuan mengenai banyaknya makanan MBG yang tidak dimakan berasal dari penelitian Departemen Antropologi Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik Universitas Indonesia (FISIP UI).
Penelitian Dilakukan di Lima Wilayah Jakarta
Riset tersebut dilakukan di lima sekolah dasar yang mewakili wilayah Jakarta Timur, Barat, Utara, Selatan, dan Pusat. Penelitian berlangsung dari Juni hingga September 2025.
Peneliti menggunakan metode observasi langsung serta wawancara dengan berbagai pihak, mulai dari siswa, guru, pengelola sekolah, hingga pihak penyedia layanan makanan dan Badan Gizi Nasional (BGN).
Dosen Antropologi FISIP UI, Dian Sulistiawati, yang memimpin penelitian tersebut menjelaskan bahwa riset ini bertujuan memberikan gambaran nyata mengenai pelaksanaan program MBG di sekolah.
Risiko Food Waste Jadi Sorotan
Hasil penelitian menunjukkan sebagian besar siswa tidak menghabiskan makanan yang disediakan dalam program tersebut. Kondisi ini berpotensi menimbulkan pemborosan makanan (food waste) jika tidak segera diperbaiki.
Karena itu, hasil riset diharapkan dapat menjadi bahan evaluasi bagi pemerintah dan penyedia layanan agar program MBG dapat berjalan lebih efektif sekaligus memberikan manfaat maksimal bagi siswa.
Kesimpulan
Program Makan Bergizi Gratis di sekolah masih membutuhkan penyesuaian agar lebih efektif. Evaluasi terhadap variasi menu, sistem distribusi, serta penentuan sasaran penerima manfaat dinilai penting untuk memastikan makanan yang disediakan benar-benar dikonsumsi oleh siswa dan tidak terbuang percuma.










