Tnews.id – Pemerintah Indonesia membuka kemungkinan menarik pasukan Tentara Nasional Indonesia dari misi perdamaian di Lebanon apabila kondisi keamanan semakin memburuk dan perlindungan dari pasukan penjaga perdamaian PBB dinilai tidak lagi memadai.
Kepala Biro Humas dan Data Informasi Kementerian Koordinator Bidang Politik dan Keamanan, Brigjen TNI Honi Havana, menyatakan opsi pemulangan lebih awal personel TNI dapat dipertimbangkan jika mandat United Nations Interim Force in Lebanon (UNIFIL) tidak mampu menjamin keselamatan prajurit yang bertugas.
Meski demikian, pemerintah menilai penugasan pasukan Indonesia di Lebanon saat ini masih relevan dengan mempertimbangkan berbagai aspek keamanan dan perkembangan situasi di lapangan.
Pemerintah Siapkan Mitigasi dan Reposisi Pasukan
TNI dan KBRI Beirut Terus Pantau Situasi Konflik
Honi menjelaskan bahwa pemerintah terus menerima pembaruan informasi dari TNI dan Kedutaan Besar Republik Indonesia di Beirut terkait kondisi keamanan di wilayah konflik Lebanon.
Sebagai langkah antisipasi, berbagai skenario mitigasi telah dipersiapkan apabila ancaman terhadap personel Satgas Kontingen Garuda meningkat. Salah satu langkah yang disiapkan ialah reposisi atau pemindahan pasukan ke area yang dinilai lebih aman.
Pemerintah juga membuka kemungkinan pengosongan sejumlah pos penjagaan apabila situasi keamanan di wilayah tertentu dianggap terlalu berisiko bagi keselamatan prajurit.
Indonesia Tetap Dukung Misi Perdamaian PBB
Sebanyak 780 Prajurit Dijadwalkan Berangkat ke Lebanon
Di tengah meningkatnya ketegangan di Lebanon, Indonesia tetap menunjukkan komitmennya terhadap misi perdamaian dunia di bawah naungan Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB).
Pemerintah menegaskan akan terus mendorong investigasi yang transparan terhadap setiap insiden yang membahayakan pasukan penjaga perdamaian, termasuk personel TNI yang bertugas di Lebanon.
Pada akhir Mei 2026, Indonesia dijadwalkan kembali mengirim sekitar 780 prajurit untuk menggantikan pasukan Satgas Kontingen Garuda yang telah menyelesaikan masa penugasan selama satu tahun.
Empat Prajurit TNI Gugur Saat Bertugas di Lebanon
Ledakan Proyektil di Pos UNIFIL Jadi Sorotan
Wacana penarikan pasukan TNI mencuat setelah meningkatnya eskalasi konflik di Lebanon dalam beberapa waktu terakhir. Situasi keamanan yang semakin tidak stabil turut memicu kekhawatiran terhadap keselamatan personel perdamaian Indonesia.
Pada akhir April 2026, tercatat empat prajurit TNI gugur saat menjalankan tugas di Lebanon. Prajurit terbaru yang meninggal dunia adalah Praka Rico Pramudia, yang wafat setelah menjalani perawatan akibat luka serius dari ledakan proyektil yang menghantam pos UNIFIL di wilayah Adchit Al Qusayr pada 29 Maret 2026.
Sebelumnya, tiga anggota TNI lain yang gugur dalam misi perdamaian tersebut adalah Kapten Inf Zulmi Aditya Iskandar, Sertu Muhammad Nur Ichwan, dan Praka Farizal Rhomadhon.
Keempat prajurit tersebut bertugas sebagai bagian dari misi penjaga perdamaian dunia yang bertujuan menjaga stabilitas keamanan dan melindungi warga sipil di wilayah konflik Lebanon.










