Tnews.id – Pembangunan jalan di kawasan Sipiongot, Sumatera Utara, membawa perubahan besar bagi kehidupan masyarakat setempat. Selama puluhan tahun, warga harus menghadapi keterbatasan akses yang berdampak pada aktivitas ekonomi, pendidikan, hingga mobilitas sehari-hari.
Kini, pembangunan infrastruktur yang dilakukan Pemerintah Provinsi Sumatera Utara mulai membuka harapan baru bagi masyarakat. Sebagai bentuk rasa syukur, warga Sipiongot memberikan upah-upah kepada Gubernur Sumatera Utara Bobby Afif Nasution dalam acara pengajian Ikatan Keluarga Dolok Sipiongot dan Sekitarnya (IKDS) di kediaman Wakil Ketua DPRD Sumut, Medan, Minggu (28/6/2026).
Pembangunan Jalan Dinilai Menjadi Titik Balik Sipiongot
Wakil Ketua DPRD Sumatera Utara, Ihwan Ritonga, menyampaikan bahwa pembangunan jalan yang tengah berlangsung menjadi momentum penting bagi Sipiongot yang selama 81 tahun belum menikmati akses jalan yang memadai.
Ia mengungkapkan bahwa persoalan infrastruktur di wilayah tersebut telah lama diperjuangkan. Sebelumnya, pembangunan dilakukan secara bertahap dengan panjang jalan yang terbatas sehingga belum mampu menyelesaikan persoalan utama masyarakat.
Saat ini, Pemerintah Provinsi Sumatera Utara mengalokasikan anggaran sekitar Rp283 miliar untuk pembangunan dan perbaikan 13 ruas jalan di kawasan Sipiongot beserta wilayah sekitarnya.
Infrastruktur Mulai Dorong Pertumbuhan Ekonomi Warga
Perbaikan akses jalan mulai memberikan dampak positif bagi masyarakat. Mobilitas menjadi lebih mudah, distribusi hasil pertanian semakin lancar, dan peluang peningkatan ekonomi pun semakin terbuka.
Menurut Ihwan, masyarakat kini merasakan perhatian pemerintah terhadap daerah yang selama ini dikenal sebagai kawasan tertinggal. Harapan terhadap kemajuan wilayah pun semakin besar seiring pembangunan yang terus berjalan.
Warga Kenang Sulitnya Kehidupan Sebelum Jalan Dibangun
Dalam dialog bersama masyarakat, sejumlah tokoh desa menceritakan pengalaman mereka saat akses menuju Sipiongot masih sangat terbatas.
Kepala Desa Janji Manahan, Ali Mutarman Dalimunthe, mengingat masa kecilnya ketika harus berjalan kaki melewati jalan berlumpur sambil memikul hasil panen untuk menuju pasar.
Sementara itu, Kepala Desa Siburbur, Sahbuddin Ritonga, mengatakan warga sebelumnya membutuhkan waktu hingga tiga jam untuk menempuh perjalanan sekitar lima kilometer menuju pusat perdagangan.
Harga Hasil Pertanian Sempat Tertekan
Sulitnya akses transportasi menyebabkan biaya distribusi hasil pertanian dan perkebunan menjadi tinggi. Dampaknya, harga jual komoditas seperti kelapa sawit di Sipiongot lebih rendah dibandingkan daerah lain yang memiliki akses jalan lebih baik.
Masyarakat berharap pembangunan infrastruktur terus dilanjutkan agar kegiatan ekonomi semakin berkembang dan kesejahteraan warga meningkat secara berkelanjutan.
Bobby Nasution: Membangun Jalan Adalah Kewajiban Pemerintah
Di hadapan masyarakat Sipiongot, Bobby Nasution menegaskan bahwa pembangunan jalan merupakan tanggung jawab pemerintah, sehingga tidak perlu dianggap sebagai sesuatu yang luar biasa.
Meski demikian, Bobby mengaku memiliki pengalaman yang sangat membekas ketika meninjau langsung kondisi Sipiongot sebelum pembangunan dilakukan. Ia pernah melintasi kawasan tersebut pada dini hari dalam perjalanan dari Labuhanbatu menuju Tapanuli Selatan dan menyaksikan beratnya akses yang harus dilalui masyarakat.
Pengalaman itu, menurutnya, menjadi salah satu alasan kuat untuk memastikan pembangunan jalan di Sipiongot dapat direalisasikan selama masa kepemimpinannya.
Siapkan Beasiswa untuk Generasi Muda Sipiongot
Selain membangun infrastruktur jalan, Bobby Nasution juga berkomitmen meningkatkan kualitas sumber daya manusia di wilayah tersebut.
Ia berjanji akan menyiapkan program beasiswa bagi putra-putri Sipiongot agar memiliki kesempatan lebih luas untuk melanjutkan pendidikan. Menurut Bobby, pembangunan daerah tidak hanya bergantung pada infrastruktur, tetapi juga pada kualitas pendidikan masyarakat sebagai bekal menuju masa depan yang lebih baik.
